Blog Belajar Sejarah SMA YADIKA

Blog daring untuk pembelajaran sejarah SMA Yadika Cicalengka skuy living dan jangan barbar, tetap jaga kesehatan belajar di rumah buat menyenangkan

  • Home
    • Version 1
  • Download
  • Social
  • Features
    • Lifestyle
    • Sports Group
      • Category 1
      • Category 2
      • Category 3
      • Category 4
      • Category 5
    • Sub Menu 3
    • Sub Menu 4
  • Contact Us

Travel

Fashion

Contact

Meski beda pandangan politik, hubungan pribadi Bung Karno dan Bung Hatta tetap berjalan baik. Banyak orang menjadi saksinya.


BAGI dwitunggal Sukarno dan Moh. Hatta, politik adalah jalan untuk mewujudkan idealisme. Karena itu, keduanya kerap berdebat bahkan hingga ketika sudah sama-sama tak muda. Namun bagi keduanya, politik tak boleh memasuki ranah kehidupan pribadi. Maka kendati perdebatan kerap mewarnai perjalanan keduanya dalam kehidupan bernegara, hubungan pribadi dan keluarga Bung Karno dan Bung Hatta selalu baik dan hangat. Persahabatan keduanya merupakan kisah manis dalam perjalanan sejarah bangsa. Banyak orang menjadi saksinya.

Pengusaha Hasjim Ning, keponakan Bung Hatta yang kemudian menjadi sahabat Bung Karno, merupakan salah seorang yang paling sering menyaksikan persahabatan kedua proklamator itu. Persahabatan Bung Karno dan Bung Hatta bahkan sudah lebih dulu ada sebelum Hasjim mengenal Bung Karno.

Kisah itu terjadi pada 1938, ketika Hasjim mengerjakan tugas dari ayahnya yang menjadi pemegang proyek rehabilitasi jalan raya Bengkulu-Manna. Suatu hari, Hasjim mendapat telepon dari sang ayah yang mengatakan dirinya mendapat surat dari Bung Hatta di Banda Neira. Surat yang dibawa oleh orang Tionghoa rekan Bung Hatta dan ayah Hasjim itu memuat pesan Bung Hatta agar ayah Hasjim membantu keperluan Bung Karno selama di Bengkulu. Bung Hatta mendengar kabar Bung Karno dipindahkan tempat pengasingannya dari Ende ke Bengkulu.

Mendapat tugas untuk menemui tahanan politik di masa itu merupakan masalah tersendiri. Hasjim lalu mengutarakannya kepada Raden Mas Rasjid, orang yang ditunjuk ayah Hasjim mengepalai proyek tersebut. Rasjid, yang ternyata kenal Bung Karno sejak di Bandung, lalu mempertemukan Hasjim dengan Bung Karno dua hari kemudian.

Di rumah Bung Karno, Hasjim langsung disambut hangat sang tuan rumah. Dia langsung menjelaskan maksud kedatangannya. Namun alih-alih merespon maksud kedatangan Hasjim, Bung Karno justru menyatakan yang lain.

“Wah, Hatta masih memikirkan aku. Tapi bagaimana dengan dia sendiri?” kata Bung Karno, dikutip Hasjim dalam memoarnya, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

Mereka pun terlibat obrolan panjang, mulai dari penjelasan hubungan saudara antara Hasjim dan Bung Hatta hingga hal-hal lain. Upaya pemberian bantuan Hasjim baru direspon Bung Karno setelah itu. “Aku perlu sepeda dan topi helm. Topi helm berwarna gading tua. Bukan cokelat,” kata Bung Karno.

“Tak ada yang lain, Bung?” tanya Hasjim.

“Tiga helai kemeja. Mereknya Van Huizen.”

Tak berapa lama kemudian, Hasjim pun mewujudkan permintaan itu.

Kebaikan itu tak pernah dilupakan Bung Karno. Saat keduanya kembali bertemu, pada masa pendudukan Jepang di rumah Bung Hatta di Oranje Boulevard 57, Bung Karno menceritakan itu semua di depan Hatta. Bung Hatta hanya berkomentar singkat dan datar.

“Ya, kebetulan sekali ada seorang kenalanku, pedagang Cina yang waktu itu mau ke Palembang menemui kakeknya yang sedang sakit,” kata Bung Hatta.  

Jauh setelah itu, saat Indonesia sudah merdeka, Sukarno dan Hatta bahu-membahu menghadapi lawan-lawan politik baik dari luar maupun dalam. Toh, keduanya akhirnya berpisah jalan setelah Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. Bung Hatta tidak setuju konsep Demokrasi Terpimpin yang diperjuangkan Bung Karno.

Namun, hubungan pribadi keduanya tetap berjalan baik. PM Ali Sastroamidjojo, kawan kedua bung sejak muda, menuliskan kesaksiannya tentang itu dalam otobiografi berjudul Tonggak-Tonggak di Perjalananku. “Oleh karena saya mengenal baik Bung Karno maupun Bung Hatta sudah begitu lama, saya menghubungi mereka tidak sebagai Perdana Menteri, melainkan secara pribadi dan sebagai kawan lama. Lebih dahulu saya datang kepada Bung Karno,” kata Ali.

Di rumah presiden, Ali menanyakan apakah keretakan Bung Karno dan Bung Hatta disebabkan sentimen pribadi. “’Saya anggap Hatta sebagai saudara kandung saya sendiri,’ kata Bung Karno, ‘yang saya tidak dapat menyetujui hanya pemandangan politiknya.’ Dari Bung Karno saya mengunjungi Bung Hatta, dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sama seperti yang saya tanyakan kepada Bung Karno. Jawaban Bung Hatta pun hampir sama dengan jawaban Bung Karno,” sambung Ali.

Hatta akhirnya tetap mengundurkan diri. Namun, fasilitas pengawalan dan penjagaan rumah tetap didapatkannya dari negara. “Bung Karno memerintahkan kepada saya agar Bung Hatta tetap dikawal seperti biasa,” kata AKBP Mangil Martowidjojo, komandan Polisi Pengawal Pribadi Presiden dan Wakil Presiden, dalam memoarnya Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

“’Bung Hatta adalah seorang proklamator negara Indonesia,’ kata Bung Karno. Bung Karno juga berkata, ‘Presiden dan Wakil Presiden RI, dapat diganti setiap saat menurut kehendak rakyat, tetapi proklamator negara RI tidak dapat diganti oleh siapapun. Maka dari itu, jagalah Bung Hatta baik-baik, sebagai penghormatan bangsa Indonesia kepada Bung Hatta’,” kata presiden, dikutip Mangil.

Namun, fasilitas itu ternyata hanya berjalan sampai pengujung 1959. Menteri Keamanan Nasional/KSAD Jenderal AH Nasution selaku pelaksana tertinggi UU Kedaan Darurat Perang memerintahkan penarikan pasukan penjagaan untuk Bung Hatta. Perintah itu dijalankan Mangil dan anak buahnya, mereka berpamitan kepada Bung Hatta pada 27 November.

“Dalam acara pamitan ini maka Bung Hatta pesan kepada saya, agar Bung Karno dijaga baik-baik. Menurut Bung Hatta, Bung Karno adalah pemersatu bangsa Indonesia. ‘Tetapi kamu harus hati-hati kepada orang-orang yang mengelilingi Bung Karno’,” tulis Mangil.

Mendengar hal itu dari Mangil, Sukarno pun amat kecewa. “Bung Hatta kan proklamator negara RI, Bung Hatta kan berhak mendapat kehormatan pengawalan,” kata Bung Karno.

sumber: https://historia.id/histeria/articles/secuil-kisah-persahabatan-sukarno-hatta-6m78B

Kamu tau ngga sih, orang-orang dari Peradaban Yunani Kuno terkenal cerdas dan pekerja keras? Makanya ngga heran, Peradaban Yunani Kuno memengaruhi ilmu pengetahuan bumi belahan Barat dalam banyak hal. Dari matematika, filsafat, astronomi, sampai ilmu kedokteran.

Tokoh-tokoh penemu ilmu pengetahuan dari Yunani Kuno di antaranya Thales, Pythagoras, Demokritos, Archimedes, Socrates, dan Plato. Selain ilmu pengetahuan, Peradaban Yunani Kuno juga berhasil mewarisi kita dengan berbagai peninggalan keren seperti arsitektur Yunani Kuno yang khas, seni, sistem pemerintahan, dan juga Olimpiade.

Peradaban Yunani Kuno (800-146 SM) berkembang dari peradaban Kreta (Minoa) dan peradaban Mikenai. Yunani terletak di kawasan Eropa Tenggara yang sering disebut Semenanjung Balkan. Wilayah Yunani meliputi daratan paling ujung dari Semenanjung Balkan dan pulau-pulau yang tersebar di sekitarnya. Berbeda dengan wilayah Mesopotamia dan Mesir Kuno, sebagian besar wilayah daratan Yunani terdiri atas daerah pegunungan yang terjal dan tanah tandus. Meskipun bukan wilayah yang subur, di bagian lembah-lembah masih bisa ditanami tanaman seperti gandum, anggur, dan zaitun.

Selain itu, bangsa Yunani Kuno memiliki sistem kepercayaan politeisme, yaitu percaya pada kekuasaan para dewa. Di antaranya Zeus (dewa langit dan bumi), Apollo (dewa kesenian), Poseidon (dewa laut), Hades (dewa kematian), Aphrodite (dewi kecantikan dan cinta), Hermes (dewa perdagangan), dan Athena (dewi kebijaksanaan).

Mereka menggambarkan para dewa seperti manusia, tapi memiliki kekuatan dan keindahan yang lebih dari manusia biasa. Para dewa dipercayai tinggal di puncak tertinggi Gunung Olimpus. Untuk menghormati dan menyenangkan mereka, bangsa Yunani Kuno mengadakan pesta olahraga di kaki Gunung Olimpus. Tradisi inilah yang sampai sekarang masih dipertahankan sebagai olahraga tingkat dunia yang kita kenal dengan Olimpiade.

Olimpiade pertama diketahui diadakan di Olympia pada 776 SM. Saat Olimpiade Kuno berlangsung, perlombaan yang diadakan adalah lari, gulat, balap kereta kuda, tinju, pankrasi (bela diri), lompat jauh, serta lempar lembing dan cakram. Tidak seperti sekarang, Olimpiade Kuno hanya boleh diikuti laki-laki, karena para wanita bertugas untuk mengurus rumah tangga dan menjaga anak. Syarat lainnya, laki-laki itu harus seseorang yang bebas atau bukan budak, serta harus bisa berbicara bahasa Yunani.

Syarat lainnya, saat mengikutinya para laki-laki ini dilarang mengenakan pakaian, alias bertelanjang. Mengapa? Karena cuaca saat itu cukup panas di Yunani dan ini dilakukan sebagai pentuk apresiasi terhadap bentuk tubuh manusia. Tidak lupa mereka mengolesi badan dengan minyak zaitun untuk menjaga kelembaban tubuh serta untuk membuatnya terlihat licin dan berotot. Biar tambah macho gitu lah maksudnya.

Nah, Olimpiade diadakan setiap empat tahun sekali. Saat hal ini terjadi, maka gencatan senjata pada peperangan akan dilakukan. Tujuannya, agar para atlit selamat menuju tempat berlangsungnya Olimpiade dan saat kepulangannya. Meski Olimpiade mencapai puncaknya pada abad ke-6 dan ke-5 SM, tetapi kemudian secara bertahap mengalami penurunan seiring jatuhnya Yunani ke tangan Romawi.

Setelah lebih dari 1000 tahun berlangsung, Olimpiade berakhir pada 393 M setelah seorang kaisar Theodosius I yang dikenal sebagai Kristen taat melarang penyelenggaraan Olimpiade karena dianggap sebagai bentuk penyembahan berhala.

Namun, berterimakasihlah kepada Baron Pierre de Coubertin yang membentuk Komite Olimpiade Internasional (International Olympic Committee/IOC) pada 1894. Setelah komite ini terbentuk, Olimpiade dihidupkan kembali di Athena, Yunani, pada 1896 yang melibatkan 241 atlit dari 14 negara. Bahkan saat Olimpiade 2016 berlangsung berhasil melibatkan lebih dari 11.000 atlit dari 205 negara.

Olimpiade Kuno diadakan di tempat yang sama setiap waktunya, sedangkan Olimpiade Modern diadakan di berbagai kota yang berbeda. Selain itu, Awalnya Olimpiade Musim Dingin diadakan pada tahun yang sama dengan Olimpiade Musim Panas, namun sejak tahun 1994 Olimpiade Musim Dingin diadakan setiap empat tahun sekali, dengan selang waktu dua tahun dari penyelenggaraan Olimpiade Musim Panas.

Olimpiade Musim Panas terakhir diadakan pada 5-21 Agustus 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Sedangkan Olimpiade Musim Dingin terakhir diadakan pada 9-25 Februari 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan. Olimpiade selanjutnya akan diadakan di Tokyo, Jepang (2020) untuk Olimpiade Musim Panas dan di Beijing, Tiongkok (2022) untuk Olimpiade Musim Dingin.

Apa sih yang didapat oleh para pemenang Olimpiade? Pada Olimpiade Kuno, pemenang Olimpiade akan mendapatkan mahkota melingkar dari batang pohon zaitun. Sedangkan pada Olimpiade Modern, pemenang Olimpiade akan mendapatkan medali. Peringkat ketiga mendapatkan medali perunggu, peringkat kedua mendapatkan medali perak, dan peringkat pertama mendapatkan medali emas, serta hadiah-hadiah lainnya.

Nah, kalau ini adalah lambang Olimpiade yang terdiri atas 5 cincin yang saling mengunci dan berbeda-beda warna, yaitu biru, kuning, hitam, hijau, dan merah dengan latar putih. Kelima warna ini dipilih karena negara peserta Olimpiade memiliki paling tidak 1 warna dari kelima warna tersebut. Selain itu, setiap cincin melambangkan 5 benua yang didiami di dunia; Amerika Utara dan Selatan dihitung sebagai satu, dilanjutkan Afrika, Asia, Eropa, dan Australia.

Hal penting lainnya dalam Olimpiade adalah obor. Sebelum penyelenggaraan Olimpiade, obor melalui serangkaian upacara khusus di situs penyelenggaraan pertama Olimpiade Yunani Kuno di Olympia, Yunani. Api dinyalakan menggunakan sinar matahari dan skaphia, sebuah cermin parabola peninggalan Peradaban Yunani Kuno. Kemudian obor bakal diarak berkeliling Yunani dan mulai dibawa menuju ke kota tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade.

Dalam konteks Olimpiade modern, nyala api Olimpiade mewakili nilai-nilai positif yang selalu dikaitkan manusia dengan api. Pilihan Olympia sebagai titik keberangkatan menekankan hubungan antara Olimpiade Kuno dan Modern yang menggarisbawahi hubungan mendalam kedua acara ini.

Sesampainya di kota tuan rumah, obor digunakan untuk menyalakan kaldron raksasa di Upacara Pembukaan Olimpiade yang kemudian mengeluarkan api yang sangat besar, tanda gelaran Olimpiade dimulai. Api ini akan terus menyala hingga hari terakhir penyelenggaraan Olimpiade. Ketika kobaran api dimatikan, artinya secara resmi penyelenggaran Olimpiade berakhir.


sumber: ruangguru.com dan tirto.id

Berbagai teori mengenai kapan dan berasal dari mana masuknya ajaran Islam ke Nusantara ternyata masih menarik untuk dikulik, terlebih ketika “kajian” tentang Kesultanan Majapahit dan klaim Gaj Ahmada sebagai nama muslim Gajah Mada dimunculkan yang lantas memantik kehebohan.

Kerajaan (bukan kesultanan atau istilah untuk menyebut kerajaan Islam) Majapahit yang selama ini dipercaya menganut agama Hindu dan Buddha berdiri sejak 1293 M atau akhir abad ke-11 dengan pusatnya di Jawa bagian timur (Nicholas Tarling, The Cambridge History of Southeast Asia, 1999).

Lantas, apakah agama Islam sudah masuk dan berkembang di Jawa ketika atau bahkan sebelum Majapahit berdiri?


Setidaknya ada 5 versi terkait teori-teori tentang masuknya ajaran Islam ke Nusantara beserta para pembawanya dan asalnya dari mana, yakni teori Arab (Timur Tengah), teori Cina, serta teori Gujarat (India) dan teori Persia (Iran), hingga teori Maritim.
Teori Timur Tengah (Abad 7 M)
Teori Timur Tengah, atau tepatnya dari Arab, merupakan versi yang cenderung paling banyak diyakini terkait perkiraan masuknya ajaran Islam ke Nusantara. Beberapa ahli yang mendukung teori ini adalah J.C. van Leur, Anthony H. Johns, T.W. Arnold, dan Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Buya Hamka menolak anggapan bahwa Islam dibawa oleh pedagang dari Gujarat (India) sejak abad ke-13 Masehi. Sanggahan ini dikemukakan oleh tokoh asal Sumatera Barat itu dalam “Seminar Sejarah Masuknya Agama Islam ke Indonesia” di Medan pada 1963 (Yusran Rusydi, Buya Hamka: Pribadi dan Martabat, 2017).

Menurut Hamka, Islam sudah ada di Nusantara sejak abad ke-7 M atau tahun-tahun awal Hijriah, dibawa oleh bangsa Arab, khususnya dari Mekkah. Hamka, seperti dikutip dari A. Shihabuddin (2013:474) dalam Membongkar Kejumudan: Menjawab Tuduhan-Tuduhan Salafi Wahhabi, disebutkan bahwa Gujarat hanya sebagai tempat singgah bagi para pedagang Arab itu sebelum menuju ke Nusantara.
Salah satu bukti yang diajukan Hamka adalah naskah kuno dari Cina yang menyebutkan, sekelompok bangsa Arab telah bermukim di kawasan Pantai Barat Sumatera (tepatnya di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara) pada 625 M (Hamka, Sejarah Umat Islam, 1997). Di Barus, yang pernah dikuasai Kerajaan Sriwijaya, juga ditemukan nisan kuno bertuliskan nama Syekh Rukunuddin, wafat tahun 672 M.

Keyakinan Hamka tersebut dikuatkan oleh teori yang dikemukakan oleh T.W. Arnold sebelumnya, berdasarkan sumber yang sama yaitu berita dari Cina. Arnold (1935) dalam The Preaching of Islam menyebut bahwa ada seorang pembesar Arab yang menjadi kepala daerah pendudukan bangsa Arab di Pantai Barat Sumatera pada 674 M .

Teori datangnya Islam ke Nusantara berasal dari Timur Tengah, meskipun tidak hanya dari Mekkah, juga pernah dimunculkan. Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), De Hollander (1861), dan P.J. Veth (1878), meyakini Islam datang dari Hadramaut atau Yaman Selatan (Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, 2004).

Yang menjadi landasan atas teori ini adalah bahwa orang-orang Islam di Hadramaut adalah pengikut mazhab Syafii, seperti halnya di Indonesia (Hermansyah & Zulkhairi, Transformasi Syair Jauharat At-Tauhid di Nusantara, 2014). Selain itu, ada pula yang menyebut Islam datang ke Nusantara dari Mesir dengan alasan serupa.
Teori Gujarat-India (Abad 13 M)
Sebelum Hamka membantah, ada teori lain yang mempercayai ajaran Islam dibawa ke Nusantara oleh pedagang Gujarat (India) pada awal abad ke-13 M. Teori ini dicetuskan oleh G.W.J. Drewes yang lantas dikembangkan oleh Snouck Hugronje, J. Pijnapel, W.F. Sutterheim, J.P. Moquette, hingga Sucipto Wirjosuparto.

Drewes sebenarnya tidak menyebut bahwa yang membawa ajaran Islam ke Indonesia adalah para pedagang India, namun oleh kaum saudagar asal Arab yang terlebih dulu menetap di Gujarat sebelum melanjutkan rute dagangnya ke Nusantara sekaligus untuk syiar Islam (Nur Syam, Islam Pesisir, 2005).

Teori Drews lalu dikembangkan, terutama oleh Hurgronje yang menyebut bahwa Islam masuk ke Nusantara seiring terjalinnya relasi niaga antara kerajaan atau masyarakat lokal dengan pedagang Gujarat dari India Selatan (Habib Mustopo, Kebudayaan Islam di Jawa Timur, 2001).

Argumen Hurgronje ini didasarkan atas peranan orang-orang Gujarat yang telah membuka hubungan dagang dengan bangsa lokal Indonesia sebelum para pedagang dari Timur Tengah atau Arab. Menurutnya, yang pertamakali dimasuki para saudagar muslim-Gujarat itu adalah wilayah Kesultanan Samudera Pasai di Aceh.

Hurgronje didukung oleh sejumlah pakar lainnya, termasuk Moquette dan Wirjosuparto, yang memaparkan bukti berupa corak batu nisan Sultan Malik As-Saleh (Marah Silu) memiliki kemiripan dengan corak nisan di Gujarat, juga hubungan dagang antara Nusantara dengan India telah lama terjalin (Uka Tjandrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, 2009).

Namun, teori ini dinilai kurang sahih karena memiliki banyak kelemahan. Selain seperti kata Hamka, yakni bahwa India hanya menjadi persinggahan para pedagang dari Arab, Gujarat pada abad ke-12 hingga 13 M masih merupakan wilayah Hindu. Ajaran Islam yang kemudian masuk ke Gujarat pun berasal dari mazhab Hanafi, bukan mazhab Syafii yang lebih lekat dengan muslim Nusantara.


Teori Cina (9 M) dan Persia (13 M)
Pendapat lain terkait masuknya Islam ke Nusantara adalah teori Cina. Diyakini bahwa Islam memasuki Indonesia bersama migrasi orang-orang Cina ke Asia Tenggara dan memasuki Palembang pada 879 atau abad 9 M. Slamet Muljana dan Sumanto Al Qurtuby adalah pendukung teori ini (Tsabit Azinar Ahmad, Sejarah Kontroversial di Indonesia, 2016).

Ajaran Islam sendiri berkembang di Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), dibawa oleh panglima muslim dari kekhalifahan di Madinah semasa era Khalifah Ustman bin Affan, yakni Saad bin Abi Waqqash. Jean A. Berlie (2004) dalam buku Islam in China menyebut relasi pertama antara orang-orang Islam dari Arab dengan bangsa Cina terjadi pada 713 M.

Namun, teori ini juga diragukan. Relasi langsung Cina dengan Nusantara baru terjadi antara abad 13-15 M (semisal terkait Panglima Cheng Ho, atau Raden Patah dan beberapa orang Walisongo yang oleh Slamet Muljana [2005] dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara disebut keturunan Cina) meskipun hubungan dagang jarak jauhnya sudah ada sebelum itu.

Berkembang pula teori Persia dari Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat. Dikutip dari Reception Through Selection-Modification: Antropologi Hukum Islam di Indonesia karya Abdurrahman Misno (2016), Djajadiningrat berpendapat bahwa tradisi dan kebudayaan Islam di Indonesia memiliki persamaan dengan Persia (Iran), semisal seni kaligrafi yang terpahat pada batu-batu nisan bercorak Islam di Nusantara.

Contoh lain adalah tradisi peringatan 10 Muharam atau tradisi budaya Islam-Persia yang juga mirip dengan tradisi serupa di Nusantara, yakni upacara Tabuik atau Tabut di beberapa wilayah pesisir Sumatera (Abdurrachman Mas'ud, Dari Haramain ke Nusantara, 2006).

Selain itu, seperti yang dinukil dari Jaih Mubarak (2008) dalam buku Sejarah Peradaban Islam, ada kesamaan mazhab antara muslim Indonesia dan sebagian wilayah Persia pada saat itu, yakni menganut mazhab Syafii. Namun, teori Persia ini juga masih kalah kuat ketimbang teori Arab, dan akhirnya runtuh.

Teori Maritim dan Lainnya
Di samping teori-teori “besar” terkait klaim masuknya ajaran Islam ke Nusantara, muncul pula sejumlah versi lainnya, termasuk teori Maritim. Ini mirip dengan salah satu teori masuk dan berkembangnya ajaran Hindu-Buddha di Indonesia, yakni teori Arus-Balik.

Teori Maritim meyakini bahwa penyebaran Islam di Nusantara dimotori oleh orang lokal sendiri yang ulung dalam bidang pelayaran dan perdagangan. Mereka berlayar ke negeri-negeri yang jauh, termasuk ke wilayah asal Islam atau negeri yang sudah menganut Islam, berinteraksi dengan orang-orang di sana, dan kembali ke tanah air dengan membawa ajaran Islam yang kemudian disebarkan.

Sejarawan asal Pakistan, N.A. Baloch, mempertegas argumen itu dengan menyebut bahwa para pelaut dan pedagang asli Nusantara bersinggungan langsung dengan para saudagar muslim, terutama yang datang dari Timur Tengah, khususnya Arab.

Mereka kemudian memperkenalkan Islam di jalur perniagaan yang disinggahi. Menurut Baloch, ini terjadi pada sekitar abad ke-7 M dan dimulai dari pesisir Aceh dan seterusnya hingga tersebar lebih luas (Akhmad Jenggis Prabowo, Kebangkitan Islam, 2011).

Masih ada pula sekelumit teori lainnya, seperti dari Mesir atau Turki. Namun argumen dan bukti-bukti yang dipaparkan tidak cukup kuat sehingga terpatahkan. Atau, teori-teori lain itu biasanya tetap bermuara pada peran kaum pedagang dari Arab yang diyakini memiliki andil paling sentral dalam upaya masuknya ajaran Islam ke Indonesia.


Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Iswara N Raditya

sumber : tirto.id


SELASA, 8 Januari 1918, Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson mengusulkan membentuk Liga Bangsa-Bangsa (LBB) atau League of Nation. Usulan tersebut termaktub di dalam 14 pasal (Wilson’s Fourteen Points). Sehingga pada Kamis, 10 Juni 1920, terbentuklah LBB di Versailles, Prancis. Sementara markas besarnya berada di Jenewa, Swiss.

Pendirian LBB bertujuan untuk memelihara perdamaian dunia dengan melucuti senjata di negara-negara konflik. Selain itu, LBB juga difungsikan untuk menyelesaikan masalah antarnegara-negara melalui diplomasi dan negosiasi.

Namun, tujuan tersebut jauh panggang dari api. Perang antarnegara justru berkecamuk. LBB gagal mengawal perdamaian dunia. Meski demikian, Presiden Amerika Serikat ke-32 Franklin Delano Roosevelt bersama Perdana Menteri Inggris Sir Winston Churchill kembali menggaungkan usaha perdamaian.

Kamis, 14 Agustus 1941, beberapa petinggi negara di dunia mengadakan pertemuan di atas kapal penjelajah Atlanta di lepas Pantai New Foundland, Samudera Atlantik. Tak lama berselang, pertemuan susulan kembali dilakukan di Moskow, Rusia (1943), Dumbarton Oaks, Amerika Serikat (1944), dan Yalta, Ukraina (1945).

Pada pertemuan di Dumbarton Oaks, Washington, kesepakatan terjadi. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Uni Soviet, dan Tiongkok sepakat membentuk organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). PBB lahir akibat kegagalan LBB dalam mengawal perdamaian.

Pada pertemuan di San Fransisco (25 April–26 Juni 1945) menghasilkan Piagam Perdamaian (Charter of Peace), yang kemudian digunakan sebagai mukadimah Piagam PBB. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh 50 negara, 282 delegasi yang terdiri atas 444 orang. Pada akhirnya, Rabu, 24 Oktober 1945, PBB resmi didirikan.

PBB Napas Perdamaian Dunia

Meletusnya Perang Dunia II (1939-1945) disebut akibat gagalnya LBB dalam mengawal perdamaian. Karena itu, pada pertengahan 1945 PBB resmi didirikan untuk mengganti peran LBB.

Setelah diresmikan, peran PBB pun semakin diperluas. Tak hanya memelihara perdamaian internasional, PBB juga bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dalam memecahkan masalah ekonomi, sosial, dan kemanusiaan internasional.

Rencana konkret awal untuk organisasi dunia baru tersebut dimulai di bawah naungan Departemen Luar Negeri AS pada 1939. Franklin D. Roosevelt dipercaya sebagai seorang yang pertama menciptakan istilah United Nations atau Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai istilah untuk menggambarkan negara-negara Sekutu.

Istilah tersebut pertama kali secara resmi digunakan pada 1 Januari 1942, ketika 26 pemerintah negara berjanji untuk melanjutkan usaha damai dengan menandatangani Piagam Atlantik.

Adapun 4 kesepakatan tersebut di antaranya (1) Tidak dibenarkan adanya usaha perluasan wilayah, (2) Setiap bangsa berhak untuk menentukan usahnya sendiri, (3) Setiap bangsa punya hak untuk turut serta dalam perdagangan dunia, dan (4) perdamaian dunia harus diciptakan agar setiap bangsa hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan.

Sebagai tindak lanjut Atlantic Charter, pada tanggal 25 April 1945, Konferensi PBB tentang Organisasi Internasional diadakan di San Francisco, dengan dihadiri oleh 50 pemerintah negara, dan sejumlah organisasi non-pemerintah yang terlibat dalam penyusunan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (Declaration of the United Nations).

PBB resmi dibentuk pada 24 Oktober 1945 atas ratifikasi Piagam oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan -Perancis, Tiongkok, Uni Soviet, Inggris, dan Amerika Serikat- dan mayoritas dari 46 negara anggota lainnya.

Sidang Umum pertama, dengan 51 wakil negara, dan Dewan Keamanan, diadakan di Westminster Central Hall di London pada Januari 1946. Kedudukan organisasi tersebut awalnya menggunakan bangunan milik Sperry Gyroscope Corporation di Lake Success, New York, mulai dari 1946 hingga 1952. Penggunaannya sampai gedung Markas Besar PBB di Manhattan telah selesai dibangun.

Kontroversi PBB

Meski telah resmi didirikan, segala kritik justru semakin kencang mengarah kepada PBB. Di Amerika Serikat sendiri, John Birch Society lahir sebagai tandingan dari organisasi dunia tersebut.

Dengan memulai kampanye get US out of the UN pada 1959, mereka menuding tujuan didirikan PBB sebagai One World Government atau Satu Pemerintah Dunia. Banyak juga dari kalangan yang bahkan menyebut PBB sebagai alat dari organisasi berbahaya Iluminati dalam mengontrol dunia.

Tak hanya itu, Komite Kemerdekaan Perancis Charles de Gaulle menyindir PBB dengan menyebutnya le machin (Si Itu), dan merasa tidak yakin bahwa aliansi keamanan global akan membantu menjaga perdamaian dunia. Gaulle justru lebih percaya pada perjanjian/pakta pertahanan antarnegara secara langsung.



simak nih ada video menarik tentang pasca perang dunia ke-dua

Home

Categories

  • Sejarah Indonesia XI 1
  • Sejarah Peminatan X 1
  • Sejarah Peminatan XI 1
  • Sejarah Wajib X MIPA 1

ABOUT ME

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

About Me

My photo
Risal Maulana
View my complete profile

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Lahirnya LBB dan PBB Apa sih itu LBB dan PBB? coba baca ini sampai beres ya!!
  • Secuil Kisah Persahabatan Sukarno-Hatta, Dwitunggal nihh, !!
  • Tahukah Kamu? Olimpiade itu Warisan Peradaban Yunani Lho!! yuk baca
  • Perdebatan dan Ragam Versi Masuknya Islam ke Nusantara

Advertisement

Blog Archive

  • ▼ 2020 (4)
    • ▼ March (4)
      • Secuil Kisah Persahabatan Sukarno-Hatta, Dwitungga...
      • Tahukah Kamu? Olimpiade itu Warisan Peradaban Yuna...
      • Perdebatan dan Ragam Versi Masuknya Islam ke Nusan...
      • Lahirnya LBB dan PBB Apa sih itu LBB dan PBB? coba...

Blog Archive

  • March 2020 (4)
Powered by Blogger.

Report Abuse

  • Home

Secuil Kisah Persahabatan Sukarno-Hatta, Dwitunggal nihh, !!

Meski beda pandangan politik, hubungan pribadi Bung Karno dan Bung Hatta tetap berjalan baik. Banyak orang menjadi saksinya. BAGI d...

Oddthemes

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates